GAYA
Indeks
Gaya Hidup

Nikah Sederhana di KUA, Pasangan Jakarta Selatan Alihkan Dana ke Rumah Tunai

Tren nikah di KUA semakin mendapat sorotan setelah kisah pasangan muda asal Jakarta Selatan menyebar luas di media sosial. Mereka memilih prosesi sederhana tanpa resepsi mewah, lalu mengalihkan anggaran yang tersisa untuk membeli rumah secara tunai. Langkah itu dinilai banyak warganet sebagai contoh perencanaan keuangan yang matang menjelang kehidupan berumah tangga.

Medi Renaldi (26) dan Rossalia Indah (28) membagikan momen pernikahan mereka melalui akun Instagram @medirenaldiii. Dalam unggahan tersebut, pasangan ini menegaskan bahwa keputusan menikah di Kantor Urusan Agama bukan impuls dadakan, melainkan kesepakatan yang sudah dibicarakan jauh hari. Video kisah mereka telah ditonton lebih dari 380 ribu kali dan memicu diskusi soal prioritas pascanikah.

Kesepakatan lama sebelum resmi berpacaran

Saat dikonfirmasi, Medi menjelaskan bahwa rencana nikah di KUA sudah disepakati bersama bahkan sebelum keduanya resmi berpacaran. Fokus utamanya jelas: sisa dana yang biasanya habis untuk pesta dialihkan ke aset jangka panjang. Bagi mereka, fondasi hunian sendiri lebih berharga daripada kemeriahan satu hari resepsi.

Prosesi di KUA berjalan lancar tanpa ritual khusus yang memberatkan. Tidak ada persiapan berbulan-bulan atau dekorasi mahal. Pendekatan minimalis ini justru memberi ruang bagi keduanya untuk menikmati momen sakral tanpa tekanan sosial yang sering muncul di lingkaran keluarga besar.

Biaya minim, outfit dari yang ada dan belanja daring

Menurut Medi, prosesi di KUA tidak dipungut biaya. Pengeluaran mereka hanya sekitar Rp350 ribu untuk keperluan jajan pribadi. Pakaian pengantin pun tidak dibeli dengan budget besar; mereka memakai apa yang sudah dimiliki dan menambah perlengkapan melalui pembelian daring di Shopee.

Dengan cara itu, pasangan ini mengklaim berhasil menghemat anggaran hingga ratusan juta rupiah. Seluruh dana yang terselamatkan kemudian dialokasikan untuk membeli satu unit rumah secara cash. Hasilnya, mereka terbebas dari cicilan hunian di awal pernikahan dan bisa menikmati quality time tanpa bayang-bayang utang pesta.

Respons warganet soal gengsi dan tekanan orang tua

Di kolom komentar, banyak pengguna mendukung normalisasi pernikahan sederhana. Sebagian mengingatkan bahwa setelah resepsi mewah, pasangan sering menanggung utang atau beban finansial lain. Namun ada pula yang menyinggung tantangan di level keluarga: orang tua kerap merasa perlu menggelar pesta agar tidak menjadi bahan omongan tetangga.

  • Dukungan pada pilihan hemat demi aset jangka panjang
  • Kekhawatiran soal tekanan sosial dari lingkungan
  • Ajakan menomorsatukan stabilitas hidup setelah menikah

Diskusi tersebut mencerminkan pergeseran nilai di kalangan pasangan muda perkotaan. Banyak yang mulai membandingkan biaya satu hari pesta dengan manfaat memiliki rumah sendiri, meski ukurannya tidak besar.

Pesan untuk calon pengantin soal prioritas masa depan

Di akhir perbincangan, Medi menyampaikan pesan ringkas namun tegas. Ia meminta calon pengantin agar tidak terpaku pada gengsi. Yang lebih penting, menurutnya, adalah memastikan kehidupan setelah menikah stabil, termasuk peluang anak kelak menempuh pendidikan tinggi.

Kisah pasangan Jakarta Selatan ini menjadi pengingat bahwa pernikahan tidak harus dimulai dengan kemewahan visual. Dengan perencanaan yang disepakati bersama, nikah di KUA bisa menjadi pintu masuk menuju keamanan finansial, bukan sekadar tren sesaat di linimasa.

Bagi pembaca yang sedang merancang pernikahan, menimbang ulang alokasi dana resepsi versus kebutuhan pascanikah tetap relevan. Pilihan Medi dan Rossalia menunjukkan satu jalur yang memungkinkan: sederhana di hari H, lebih lega di tahun-tahun berikutnya.

Sumber: Wolipop.

Tag: nikah di KUA, pernikahan sederhana, beli rumah cash, pasangan muda, hemat biaya nikah, finansial pascanikah, Jakarta Selatan, quality time