Perhatian publik tenis dan pecinta mode sempat teralih ke outfit Taylor Townsend saat petenis Amerika Serikat itu melangkah ke Arthur Ashe Stadium, Queens, New York. Di babak keempat US Open 2026, ia tampil dengan setelan hitam mencolok saat menghadapi Aryna Sabalenka, penampilan yang langsung menjadi bahan perbincangan di media sosial.
Pilihan warna gelap dan siluet yang tegas membuat sejumlah penonton digital bertanya-tanya soal konsep di balik busana lapangan tersebut. Di sisi lain, ada pula yang memuji keberaniannya menampilkan identitas visual yang berbeda dari seragam tenis konvensional.
Sorotan pada setelan hitam di Arthur Ashe Stadium
Townsend memasuki lapangan dengan ensemble serba hitam yang detailnya cukup menonjol di bawah lampu stadion. Reaksi netizen beragam: ada yang langsung menanyakan jenis pakaian yang dikenakannya, ada pula yang mengaitkan siluet tersebut dengan kesan visual seekor beruang grizzly.
Tidak semua komentar bernada kritis. Sebagian penggemar justru menyebut penampilannya sebagai ensemble “blackout” dan mengaku menyukai keberanian gaya yang ditampilkan perempuan kelahiran Chicago 1996 itu. Bagi mereka, pilihan busana itu menandai fase Townsend yang semakin berani bereksperimen sepanjang turnamen.
Bukan hanya satu look, tiap babak beda rancangan
Setelan hitam lawan Sabalenka ternyata bukan satu-satunya eksperimen mode Townsend di US Open tahun ini. Ia diketahui mengganti outfit custom di setiap babak, sehingga rangkaian penampilannya terasa seperti koleksi mini yang konsisten namun tidak monoton.
Pendekatan tersebut membuat penampilannya di lapangan tidak sekadar fungsi olahraga, melainkan juga pernyataan gaya. Bagi pembaca portal Gaya Kini yang mengikuti tren fashion atlet, langkah ini memperlihatkan bagaimana tenis grand slam kian terbuka terhadap kolaborasi desain yang personal.
Desainer Anthony Lattimore dan arahan stylist J. Bolin
Rangkaian busana tersebut dikerjakan Anthony Lattimore dengan arahan kreatif stylist J. Bolin. Konsepnya tidak berhenti pada estetika visual saja. Kebutuhan gerak Townsend saat bertanding ikut menjadi pertimbangan utama dalam setiap potongan.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Marie Claire, Bolin menjelaskan bahwa Townsend menginginkan elemen yang mendukung mobilitas. Hasilnya, desain memadukan detail struktural, rumbai atau fringe berhias manik-manik, serta material elastis yang memberi penopang tubuh sekaligus keleluasaan bergerak di lapangan.
Makna keberanian gaya di tengah kompetisi ketat
Di ajang sebesar US Open, tekanan hasil pertandingan sering menenggelamkan aspek penampilan. Townsend justru memanfaatkan panggung itu untuk menegaskan karakter lewat pakaian. Respons publik yang terbelah justru menandakan bahwa pilihannya berhasil memecah monotoni visual seragam olahraga.
- Warna hitam penuh sebagai pernyataan visual kuat
- Detail fringe dan manik sebagai aksen gerak
- Bahan elastis untuk dukungan saat rally panjang
- Kolaborasi desainer–stylist yang terencana tiap babak
Bagi penggemar mode di Indonesia, kisah ini relevan sebagai pengingat bahwa ekspresi diri lewat busana bisa hadir di ruang kompetitif sekalipun, tanpa harus mengorbankan fungsi performa.
Pada akhirnya, perbincangan soal outfit hitam Townsend lebih dari sekadar meme perbandingan hewan. Ia membuka ruang diskusi tentang bagaimana atlet perempuan merancang citra di lapangan, bagaimana desainer menjawab tantangan gerak, dan bagaimana penonton merespons keberanian visual di tengah skor yang ketat. Penampilan di New York itu menjadi catatan mode singkat yang layak diingat dari US Open 2026.
Sumber: Wolipop.
